//
sersan lagi baca...
Refleksi Individual

Sila Kelima Pancasila, Makna vs Realita

Oleh: Hudzaifa Septi Intani

Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia sesungguhnya berasal dari perpaduan dua kata dari bahasa Sansekerta, Panca yang berarti lima, syila yang berarti alas atau dasar. Di atas kelima dasar itulah didirikanlah negara Indonesia yang merdeka. Sebuah negara demokratis yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, serta Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pancasila identik disatukan dengan lambang negara Indonesia yang berupa Burung Garuda, yaitu digambarkan dengan memiliki perisai simbol Pancasila di antara sayap-sayap gagahnya yang merentang. Sejak hari kemerdekaannya hingga sekarang, lambang Burung Garuda dengan perisai simbol-simbol Pancasila telah menjadi instrumen wajib dalam hal yang berhubungan dengan kewarganegaraan. Merupakan suatu kemustahilan apabila orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia namun tidak pernah melihat lambang Burung Garuda atau mendengar sila-sila Pancasila yang dibacakan. Sila-sila Pancasila pun tidak pernah absen dari pembacaan ketika Upacara Bendera. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia haruslah berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu pendidikan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah disertakan dalam bahan ajar Kewarganegaraan di berbagai institusi pendidikan sejak dini. Tujuannya bukan untuk menghafal sila-sila Pancasila, lebih dari itu, Pancasila sebagai ideologi negara diperlukan untuk menjadi acuan bagi setiap warga negara dalam bersikap dan berperilaku di kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga setiap warga negara Indonesia bisa mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama ini merupakan titik sentral dari sila-sila yang lain. Ini digambarkan dengan simbol bintang tunggal dalam Pancasila yang berada menjadi titik tengah dari sila-sila yang lain. Mengacu pada refleksi diri, sila pertama ini menegaskan bahwa perilaku setiap warga negara Indonesia haruslah berdasarkan iman kepada Tuhan.

Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Sila kedua yang disimbolkan dengan rantai yang disusun atas gelang-gelang kecil ini ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang adil dan beradab, yang saling membantu satu sama lain. Sila ini juga menegaskan bahwa warga negara Indonesia adalah manusia bermoral yang mempunyai rasa kepedulian tinggi terhadap sesama.

Persatuan Indonesia. Sila ketiga yang disimbolkan dengan pohon beringin yang berakar tunjang dan memiliki banyak akar yang menggelantung dari ranting-rantingnya ini menggambarkan Indonesia sebagai negara kesatuan namun memiliki berbagai akar budaya yang berbeda-beda. Hal ini terefleksi pada bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke, namun tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sela ketiga ini juga sesuai dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti Berbeda-beda namun satu jua.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Sila keempat yang disimbolkan dengan Kepala Banteng ini menekankan bahwa bangsa Indonesia dipimpin dibawah suatu kepemimpinan yang bijaksana, terefleksi dengan penyelesaian semua masalah secara musyawarah, gotong royong, dan kekeluargaan.

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia. Sila terakhir dalam Pancasila yang disimbolkan dengan Padi dan Kapas sebagai lambang kemakmuran ini merujuk kepada sebuah bangsa yang rakyatnya dipimin secara adil, dimana keputusan pemimpin memberikan keadilan bagi semua pihak.

Realita berkata lain

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia belum dirasakan oleh seluruh rakyat IndonesiaMengerucutkan topik kepada sila terakhir dari Pancasila, yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Bangsa Indonesia. Makna dari sila kelima ini adalah keadilan sosial yang seharusnya dirasakan oleh seluruh bangsa Indonesia. Namun realitanya, sudahkah semua pihak mendapatkan rasa adil di bawah naungan kepemimpinan pemerintahan Indonesia?

Merujuk pada kenyataan yang terjadi pada penduduk Indonesia, keadilan sosial belumlah terpenuhi dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai contoh bahwa kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan miskin terlihat sangatlah nyata. Tidaklah perlu dipaparkan lebih jauh, karena hampir semua pembaca pernah menjumpai fenomena tersebut. Adilkah untuk kaum papa di negeri ini? Disaat mereka berjuang keras demi sesuap nasi sebagai penyambung hidup, banyak kaum eksekutif yang menghambur-hamburkan uang dengan sengaja. Belum mengenai kasus pejabat yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk korupsi uang rakyat yang sebenarnya untuk mendanai kepentingan umum. Lihatlah, warga di daerah terpencil dan di daerah perbatasan yang sering muncul dalam televisi dengan berita utama konflik, maupun kelaparan, dimana kesejahteraannya jauh dari diperhatikan oleh pemerintah pusat. Teriring dengan berita mengenai anak jalanan yang putus sekolah dan terpaksa mencari uang sendiri sebagai pengamen kecil maupun penjaja asongan? Bandingkan dengan gaya hidup warga metropolitan yang hedonis. Adilkah bagi mereka? Tak tahukah mereka kalau tertulis dalam Undang-Undang bahwa fakir miskin dan anak terlantar dilindungi oleh negara? Jikalau tahu, kemanakah mereka akan mengadu? Disaat pihak-pihak yang seharusnya bersinggungan dengan masalah tersebut terbawa ke arus politik yang cenderung kepada mendahulukan kepentingan golongan daripada kepentingan umum?

Sebuah realita yang tidak masuk akal bahwa telah terjadi money talks di negara Indonesia yang dikenal sebagai negara hukum. Hal ini yang membuat masyarakat bertanya-tanya dimanakah titik berat sila kelima Pancasila dalam implementasi kehidupan bernegara. Masih segar dalam ingatan tentang kemewahan penjara Artalyta Suryani, seorang tersangka penyuapan jaksa kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia[1]. Dalam televisi terlihat Artalyta menangis di meja pesakitan meminta keadilan untuk anak-anaknya yang masih kecil. Seperti yang dilansir Wikipedia.com, bahwa untuk menebus kesalahannya, Artalyta divonis hukuman penjara lima tahun. Saat itulah masyarakat Indonesia merasakan keadilan akan keputusan Mahkamah Agung. Namun pada kenyataannya, Artalyta mendapat fasilitas penjara yang mewah, layaknya kamar hotel. Bahkan dia bisa melakukan perawatan wajah secara pribadi. Kemudian, muncul guratan kekecewaan di wajah masyarakat Indonesia, bertanya-tanya akan letak sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dalam kasus ini.

Bukan hanya sekedar dasar negara

Sila Kelima sebagai tujuanBercermin dari esensialitas sila kelima ini, maka akan ditemukan makna yang sangat mendalam. Bahwa sila terakhir Pancasila ini bukan hanya sebagai pedoman hidup bangsa, atau lebih rendah, hanya dihafal sewaktu upacara bendera. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia lebih dari sebuah azas, namun juga menjadi tujuan dari kehidupan bernegara, tujuan dari didirikannya negara Indonesia ini. Sebuah negara yang adil, makmur, dan sejahtera, dimana semua rakyatnya –tanpa terkecuali- mendapatkan keadilan. Realita yang terjadi saat ini dikarenakan pemerintah maupun warga sipil yang belum sepenuhnya hidup bernegara berlandaskan Pancasila.

Substansi Pancasila dengan kelima silanya terdapat pada ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan merupakan suatu sistem nilai yang tidak dapat dipisahkan. Benang merahnya adalah bangsa yang berketuhanan yang bertakwa kepada Tuhan, untuk kemudian ketakwaan tersebut menimbulkan rasa kemanusiaan yang tinggi yang berujung pada rasa persatuan bangsa Indonesia yang hidup berdampingan secara harmonis tanpa membeda-bedakan suku ras dan agama dibawah suatu kepemimpinan yang demokratis dimana keputusan diambil secara musyawarah untuk mencapai tujuan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia.

Referensi: http://ksupointer.com/makna-lambang-garuda-pancasila

Modul Bahan Ajar Citizenship. Pemahaman dan Pengamalan Pancasila. Yasni, Sedarnawati. 2009. CITIZENSHIP. Jakarta: Penerbit Media Aksara


About these ads

About warganegarayangbaik

Saya Jend. H.E.R.I, sebuah blog yang dirintis oleh 4 manusia yang ngaku kreatif dan gahoooeeel abiezzz, 4 makhluk yang tengah coba mendalami untuk menjadi warga negara yang baik. Di sini saya akan memberikan berbagai info menarik seputar pencarian jati diri saya dan tentu saja pandangan saya akan berbagai fenomena yang tengah terjadi di bangsa ini. Saya berharap dengan adanya saya, dapat membuat sersan sekalian lebih termotivasi untuk turut serta meramaikan dunia blog citizenship Indonesia. Ingin tahu lebih lanjut tentang para perintis? Silahkan klik link berikut...

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: