//
sersan lagi baca...
Refleksi Individual

Dampak Hacktivism Bagi Stabilitas Politik Nasional

Oleh: Eryk Budi Pratama

Hacktivism, sebuah kata yang mungkin jarang diketahui masyarakat namun pada suatu waktu bisa menjadi masalah yang cukup besar. Berdasarkan definisi yang dikutip dari Wikipedia, hacktivism adalah penggunaan komputer dan jaringan komputer sebagai sarana protes untuk mempromosikan tujuan politik. Di dalam kata hacktivism, terdapat kata “hack”, yang memiliki arti suatu aktivitas mencari kelemahan-kelemahan suatu sistem komputer. Hacker merupakan orang yang melakukan kegiatan “hack” maupun “hacktivism”. Lalu, apakah hubungan antara hacktivism dengan stabilitas politik nasional ?

Hacktivism bisa dikatakan hampir selalu berkaitan dengan cyberterrorism. Cyberterrorism merupakan kejahatan yang memanfaatkan teknologi informasi, dalam hal ini internet sebagai media komunikasi yang semakin lama menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat yang terutama melek IT. Untuk risiko yang ditimbulkan, keduanya sama-sama menghasilkan suatu aktivitas destruktif yang dapat merugikan pihak-pihak tertentu. Namun dalam perspektif yang lain, keduanya mungkin memiliki memiliki tujuan dan motif yang berbeda. Dapat dikatakan bahwa hacktivism lebih mengarah untuk kepentingan politik tertentu, terutama yang berhubungan dengan ideologi dan sistem politik. Sedangkan cyberterrorism lebih mengarah untuk kepentingan individu atau kelompok dengan tujuan untuk memperkaya diri maupun untuk sekedar menunjukkan eksistensi. Meski hampir sama, namun diantara keduanya, hacktivism yang paling memberikan efek jangka panjang bagi kelangsungan kehidupan berpolitik.

Perlu diketahui bahwa dilihat dari perspektif komunikasi politik, sebagaimana dikutip oleh Ward & Cahill dalam Old and New Media: Blogs in The Third Age of Political  Communication, menyebut gejala ini sebagai era kemunculan komunikasi politik generasi ketiga. Generasi pertama banyak memanfaatkan kekuatan face-to-face informal.Generasi kedua bersandar pada penguasaan media-media mainstream seperti televisi, koran, radio, majalah, dan lain-lain sehingga memunculkan  statement bahwa “siapa menguasai media maka akan menguasai dunia”. Generasi ketiga terletak pada kekuatan interaktivitas  dan basis multimedia yang memungkinkan orang saling bertautan tanpa harus bertemu secara fisik sebelumnya. Interaktivitas menjadi kata kunci dan inilah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu dalam melakukan suatu aktivitas yang bahkan bisa menjatuhkan pihak-pihak tertentu.

Pada pemilu 2004, website dari KPU di-deface (diubah tampilannya secara ilegal) oleh seorang cracker (hacker jahat) dengan menggunakan peralatan yang sederhana. Perubahan secara illegal dilakukan terhadap nama-nama partai yang tertera pada website KPU. Meskipun hal itu dilakukan dengan motif mencoba-coba, namun dampaknya mungkin tidak sederhana. Banyak kritik-kritik pedas terhadap sistem keamanan website KPU yang dilontarkan kepada tim website KPU dan akhirnya berimbas pada persepsi masyarakat yang menyatakan bahwa pemerintah tidak becus dalam memelihara aset-asetnya. Andai hal tersebut dilakukan dengan tujuan politik tertentu, mungkin akan terjadi pertikaian antar partai. Dan hacktivism bisa menjadikan hal ini sebagai media adu-domba antar partai, yang berujung pada persaingan politik yang tidak sehat. Hal ini dapat mengancam stabilitas politik nasional jika berlangsung terus menerus.

Perkembangan internet yang cepat dan semakin meningkatnya jumlah penggunanya, membuat layanan interaksi publik seperti social networking semakin marak dan banyak penggunanya. Yang membuat jumlah pengguna social networking meningkat adalah karena adanya kemudahan dalam berinteraksi dan kebebasan dalam menyampaikan pendapat. Kilas balik terhadap kasus Prita Muliasari, bagaimana perjuangan ibu dari seorang anak kecil ini ketika berhadapan dengan sebuah institusi swasta cukup menarik perhatian masyarakat. Bahkan di Facebook pun terdapat group “Gerakan 1.000.000 koin untuk Prita”. Mungkin dalam kasus ini yang dirugikan hanyalah beberapa pihak dan lingkupnya kecil. Seandainya hal ini menyangkut kepentingan politik nasional, misalnya ada gerakan 1.000.000 Facebooker yang menuntut untuk turunnya jabatan individu atau kelompok dalam pemerintahan, hal ini akan berimbas terhadap kelangsungan politik nasional karena hal ini adalah simbol ketidakpuasan masyarakat Indonesia terhadap pihak tertentu dalam pemerintahan.

Salah satu tindakan yang memiliki efek cukup besar adalah provokasi yang dilakukan dengan dalam hacktivism. Wikileaks, yang terkenal sebagai website yang mempublish dokumen-dokumen rahasia negara, sempat membuat negara adidaya seperti USA pun resah. Untuk saat ini dokumen-dokumen rahasia pemerintah Indonesia belum banyak dipublish. Namun dalam beberapa tahun ke depan, andai Wikileaks masih tetap bertahan, bukannya tidak mungkin hal-hal yang dirahasiakan oleh lembaga pemerintahan Indonesia akan dapat dilihat publik. Apabila dokumen-dokumen tersebut merugikan rakyat Indonesia, bukannya tidak mungkin memicu tragedi yang terjadi pada tahun 1998 akan terulang lagi, dimana rakyat tidak puas dengan pemerintah.

Ancaman lain dari hacktivism adalah integritas dari sebuah informasi. Pada pemilu 2004, mungkin dampak dari aksi deface tidak terlalu besar karena motifnya hanya untuk iseng. Seandainya ada sebuah motif politik dari partai politik tertentu, bukannya tidak mungkin database dari suara pemilih pada pemilu akan dapat diubah, sehingga integritas datanya sulit untuk divalidasi, terutama apabila hacktivism melibatkan pihak internal yang notabene bersentuhan langsung dengan sistem penghitungan suara. Tentunya hal ini akan menimbulkan konflik yang besar dan tentu akan memberikan kerugian finansial karena harus diadakan pemilu ulang.

Masih banyak dampak dari hacktivism karena sesungguhnya perkembangannya mengikuti perkembangan IT pula. Makin canggih suatu teknologi, semakin beragam pula teknik-teknik yang dapat dilakukan. Sebagai lembaga yang memiliki kewenangan tertinggi, pemerintah harus lebih aware terhadap ancaman yang dapat ditimbulkan oleh hacktivism. Ancaman dapat dilakukan secara terang-terangan maupun terselubung. Ancaman yang secara terang-terangan dapat dilakukan melalui media website, jejaring sosial (social networking), forum diskusi, dan lain-lain melalui internet. Ancaman secara terselubung dapat dilakukan langsung ke sistem utama atau internal, dimana hal tersebut lebih mudah dilakukan jika ada kerjasama dengan pihak internal. Pihak internal sesungguhnya merupakan ancaman yang lebih besar daripada pihak eksternal yang mungkin berpengalaman dalam kegiatan hacktivism.

Kembali kepada rasa nasionalisme, rakyat Indonesia harus menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila. Hacktivism terjadi karena kurangnya nasionalisme dan rasa saling menghargai terhadap orang lain. Stabilitas politik nasional bisa ditegakkan apabila entitas-entitasnya stabil. Adanya satu gangguan pada element politik nasional, maka bagian yang lain akan terganggu pula. Salah satu cara untuk menghindari hacktivism adalah dengan kembali ke ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Pancasila mengandung nilai-nilai persatuan dimana hal ini harusnya dapat mempersatukan segenap rakyat Indonesia ketika mendapatkan gangguan yang salah satunya melalui hacktivism ini. Semangat Pancasila, semangat Bangsa Indonesia.

 

 

I am a hacker, and this is my manifesto.  You may stop this individual. but you can’t stop us all…

+++The Mentor++

About warganegarayangbaik

Saya Jend. H.E.R.I, sebuah blog yang dirintis oleh 4 manusia yang ngaku kreatif dan gahoooeeel abiezzz, 4 makhluk yang tengah coba mendalami untuk menjadi warga negara yang baik. Di sini saya akan memberikan berbagai info menarik seputar pencarian jati diri saya dan tentu saja pandangan saya akan berbagai fenomena yang tengah terjadi di bangsa ini. Saya berharap dengan adanya saya, dapat membuat sersan sekalian lebih termotivasi untuk turut serta meramaikan dunia blog citizenship Indonesia. Ingin tahu lebih lanjut tentang para perintis? Silahkan klik link berikut...

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: