//
sersan lagi baca...
Refleksi Individual

Nasionalisme, Ada dan Tiada

oleh: Intan Muspita Sari

Tahun 1945, sejak itu lah lagu Indonesia Raya dilantunkan, memperkuat nasionalisme jiwa muda yang baru merdeka. Namun masihkah sama semangat yang diberikannya 66 tahun lalu dengan sekarang? Nasionalisme, dulu sebuah kata yang asing, tapi kini ia telah menjadi “study wajib” di sekolahan. Namun, apakah arti sesungguhnya dari nasionalisme itu masih tertanam di setiap jiwa bangsa ini? Ataukah ia hanya satu diantara banyak kata yang dihafalkan di luar kepala? Sebuah kata terdefinisi yang tak memiliki jiwa dan rasa.

Nasionalisme

Apa itu nasionalisme? Sebelum berpendapat, mari lah kita merujuk pada sumber dan para ahli di bidangnya agar tak terjadi kesalahan pandangan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) nasionalisme memiliki arti/definisi: (1) paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: — makin menjiwai bangsa Indonesia; (2) kesadaran keanggotaan dl suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.

Nasionalisme menurut ahli:

Lothrop Stoddard: Nationalism is a belief, head by a fairly large number of individual that they constitute a nationality; it is a sense of belonging together as a nation.

(nasionalisme adalah suatu kepercayaan, dianut oleh sejumlah individu yang cukup besar sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan; ia adalah suatu rasa kebersamaan segolongan sebagai suatu bangsa)

Arif Budiman: Nasionalisme adalah persatuan secara kelompok dari suatu bangsa yang mempunyai sejarah yang sama, bahasa yang sama dan pengalaman yang sama.
Dalam Modul Bahan Ajar CITIZENSHIP oleh Sedarnawati Yasni, “Nasionalisme adalah situasi kejiwaan dari kesetiaan seseorang secara total yang diabdikan kepada negara bangsa atas nama sebuah bangsa. Nasionalisme merupakan suatu sikap dalam bentuk rasa cinta tanah air dan kesiapan dalam membela negara”.

Merujuk pada beberapa definisi di atas, anda dipersilahkan berpendapat bagaimana arti nasionalisme. Jika ditanya, saya sendiri mengartikan nasionalisme sebagai suatu semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air yang diwujudkan dalam tindakan nyata demi menjaga cita-cita bangsa dengan selalu menjaga persatuan.

Krisis Nasionalisme

Nasionalisme, sebuah semangat yang seharusnya telah membuat negeri ini semakin berkembang maju dan mapan di usia nya yang telah lebih setengah abad. Sebuah semangat yang seharusnya semakin mengakar kuat di jiwa ini, bukan justru semakin luntur seiring berjalan nya waktu. Sebuah semangat yang seharusnya berkobar mengiringi tiap hembusan napas, bukannya sebuah semangat statis yang muncul hanya ketika derajat bangsa ini direndahkan. Haruskah menunggu hingga dilecehkan dan dicemooh baru lah nasionalisme bangsa ini muncul?

Di negeri ini “tak ada yang tak bisa dibeli dengan uang” bahkan nasionalisme pun dihargai dengan uang. Dengan mudahnya tetua bangsa ini menjual tanah kehidupan rakyatnya demi kepentingan sendiri dengan iming-iming “ini semua demi memajukan ekonomi rakyat”. Sungguh malang nasib ibu pertiwi, di usia nya yang semakin tua masih khawatir akan kah esok tanah tempat ia berpijak masih tetap menjadi miliknya. Bagi saya sendiri, ini adalah tindakan bodoh, sebuah tindakan tak berpikir panjang, hanya sekedar pemenuhan nafsu semata. Sebegitu inginkah para penjual hak rakyat ini mengembalikan negeri ini ke masa penjajahan? Atau kah ini semua terjadi akibat kepedulian dan perhatian kita yang sudah minus? Baru berbuat ketika media mulai melantunkan lagu melo tanpa henti, tak ingin ketinggalan ambil bagian dalam parade yang sedang berlangsung.

Dimana nasionalisme…?

Apakah bangsa ini tengah mengalami krisis nasionalisme? Bagi saya hal itu tidak lah benar, masih banyak sosok-sosok terpelajar yang selalu siap sedia memajukan negeri ini, namun apa daya ketika negerinya bersikap acuh tak acuh, memajukan negara lain adalah pilihannya lantaran di sana ia lebih dihargai. Menghargai, itu lah yang kurang dari bangsa ini, hanya peduli pada keuntungan sementara. Seperti pengemis yang diberi pekerjaan namun lebih memilih tetap menjadi pengemis, lantaran uang hari ini yang diperoleh lebih besar, tak terpikirkan pekerjaan bergaji kecil yang disodorkan padanya kelak akan mengantarkannya ke jenjang yang lebih tinggi. Lalu pantas kah muda mudi Indonesia ini disebut pengkhianat bangsa (baca: tak nasionalis) yang tak punya kecintaan pada tanah air nya sendiri?

Nasionalisme, sebuah kata yang sulit untuk dipahami, ia tak dapat dinilai hanya dari satu sisi, individu berbeda bisa memiliki pandangan berbeda tentang nasionalisme terhadap satu kasus yang sama.

Contoh kasus yang sering terjadi: Si A tinggal di ibukota, ia hafal lagu Indonesia Raya, pancasila, isi proklamasi, hingga pembukaan UUD 1945. Namun, semua barang yang di pakainya adalah buatan luar negeri.

Si B tinggal di daerah yang pendidikannya masih minim, tak satu pun dari hafalan si A yang ia tahu, bahkan berbahasa Indonesia pun tak fasih, bahasa dan budaya daerah begitu kental pada dirinya. Walau demikian, ia bangga berstatus bangsa Indonesia; tempat ia berpijak. Tak satu pun barangnya yang buatan luar negeri.

Bagaimana nasionalisme A dan B menurut anda? Manakah di antara keduanya yang memiliki nasionalisme lebih tinggi? Lalu bagaimana jika terdapat aspek lainnya? A ternyata rajin memperkenalkan wisata Indonesia pada dunia, berprestasi tingkat dunia atas nama Indonesia. Sedangkan B yang tak satu pun barangnya buatan luar negeri ternyata untuk makan saja sulit, setiap hari ia berdiri di lampu merah, melantunkan lagu “anak bangsa yang terabaikan”, tak sedetik pun terpikir olehnya untuk menaikkan derajat kehidupannya; berlindung di balik “yang di atas tidak peduli, bagaimana saya bisa maju?”. Mengabaikan kenyataan, tak sedikit di antara mereka yang berprestasi dengan latar belakang yang sama.

Anda dipersilahkan untuk menilai dan berpendapat tentang keduanya, tapi tentu saja merujuk pada pengertian dari nasionalisme itu sendiri.

Nasionalisme, sebuah kata beribu makna…

Nasionalisme sesungguhnya bukan hanya rasa abdi negara, ia adalah sesuatu yang harus diwujudkan melalui sikap dan usaha, sebuah karya. Semuanya bisa dimulai dari hal sederhana, seperti:

–       Mencintai dan bangga akan produksi dalam negeri

–       Bangga mengaku berkewarganegaraan Indonesia di hadapan dunia

–       Selalu menjunjung tinggi persatuan dalam perbedaan

–       Berprestasi di segala bidang dalam rangka mengangkat nama Indonesia di mata dunia.

Berhentilah berlindung di balik “saya tidak mampu, saya tidak berpendidikan, saya tidak tahu, saya tidak mendapat dukungan, saya hanyalah ini dan saya lainnya…”.

Jangan hanya menunggu dan menunggu, talk less do more and start now.

Mulai lah berbuat untuk bangsa detik ini juga, menulis sebuah kata “INDONESIA” di media sosial misalnya. Bukankah ini tidak sulit? Beranggapan ini lelucon? Tidak. Bayangkan jika seperempat saja dari jutaan rakyat Indonesia menulis kata ini setiap hari. Berapa rating kata Indonesia di search engine? Sebuah angka yang fantastis. Apalagi jika menulis tentang Indonesia di blog gratisan, menyuguhkan berbagai informasi tentang negeri tercinta; anda telah turut serta memajukan negeri ini.

Mohammad Iqbal, dulunya juru parkir di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Dengan latar belakang keluarga yang tergolong miskin, siapa sangka ia berhasil meraih emas ketiga tim gulat Indonesia pada SEA Games XXVI-2011 di kelas 50 kg bebas. Ia telah berhasil berkarya dan tetap berusaha untuk yang lebih baik, lalu kapan kita akan berkarya?

Ini hanya lah refleksi saya-penulis sebagai salah satu “pengamat amatiran” di negeri ini, semuanya kembali kepada anda para pembaca bagaimana menanggapinya. Jika muncul pendapat yang berbeda, ingatlah kembali tanpa adanya perbedaan tak akan ada “bhinneka tunggal ika”.

Picture by google

Referensi:

http://kamusbahasaindonesia.org

http://www.wikipedia.org/

Aditya Batara Gunawan. PPT CITIZENSHIP Session II National Identity.

Sedarnawati Yasni. 2009. Modul Bahan Ajar CITIZENSHIP. Media Aksara, Bogor.

Jend. H.E.R.I selalu siap sedia menerima saran dan kritik dari sersan semua🙂

About warganegarayangbaik

Saya Jend. H.E.R.I, sebuah blog yang dirintis oleh 4 manusia yang ngaku kreatif dan gahoooeeel abiezzz, 4 makhluk yang tengah coba mendalami untuk menjadi warga negara yang baik. Di sini saya akan memberikan berbagai info menarik seputar pencarian jati diri saya dan tentu saja pandangan saya akan berbagai fenomena yang tengah terjadi di bangsa ini. Saya berharap dengan adanya saya, dapat membuat sersan sekalian lebih termotivasi untuk turut serta meramaikan dunia blog citizenship Indonesia. Ingin tahu lebih lanjut tentang para perintis? Silahkan klik link berikut...

Discussion

2 thoughts on “Nasionalisme, Ada dan Tiada

  1. nasionalisme adalah kunci untuk membuka gerbang kemajuan bangsa…betul gk!!

    Posted by Rhex | November 21, 2011, 3:41 am
  2. 🙂 salut buat sersan…..ini dia generasi muda indonesia sejati
    slalu tebar smangat “talk less do more and start now”
    g usah dibuka pake kunci san….kita runtuhkan saja gerbangnya😄
    MERDEKA!

    Posted by warganegarayangbaik | November 22, 2011, 9:46 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: