//
sersan lagi baca...
Refleksi Individual

Unconscious Constitutionalism

Oleh: Eryk Budi Pratama

Berdasarkan definisi yang tertera dalam Wikipedia, constitutionalism (konstitusi) merupakan sebuah norma sistem politik dan hukum bentukan pada pemerintahan negara yang biasanya dikodifikasikan sebagai dokumen tertulis. Unconscious, dalam ilmu fisiologi didefinisikan sebagai kurangnya kesadaran atau tanggapan terhadap orang dan rangsangan lingkungan lainnya. Berdasarkan dua definisi di atas, ada dua kata kunci yang perlu diperhatikan, yaitu norma dan kesadaran. Norma dalam hal ini mengacu pada aturan dan ikatan dalam sebuah sistem politik di suatu negara dan kesadaran mengacu pada respon dan kepedulian masyarakat terhadap norma-norma yang diterapkan dalam suatu negara, dimana dalam hal ini adalah konstitusi.

Menurut Soetandyo Wignyosoebroto dalam buku Hukum, Paradigma, Metode dan Masalahnya, terdapat dua prinsip dari konstitusionalisme. Pertama, sebagai konsep negara hukum, bahwa kewibawaan hukum secara universal mengatasi kekuasaan negara, dan sehubungan dengan itu hukum akan melakukan kontrol terhadap politik, bukan sebaliknya. Kedua, bahwa konsep hak-hak sipil warga negara yang menyatakan bahwa “Kebebasan warga negara dijamin oleh konstitusi dan kekuasan negarapun dibatasi oleh konstitusi, dan kekuasaan itupun hanya memperoleh legitimasinya dari konstitusi”. Dapat ditarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa konstitusi sebagai kontrol dari kekuasaan.

Terdapat hubungan antara norma dan kesadaran masyarakat dalam membentuk suatu tatanan kenegaraan. Hubungan itu terdapat dalam sebuah konstitusi, dimana terdapat kesepakatan antara pemangku kepentingan politik negara (dalam hal ini pejabat negara) serta konstituennya (dalam hal ini masyarakat) yang dapat dibentuk dalam kodifikasi tertulis maupun yang tak tertulis. Fokus dalam pembahasan ini adalah tentang kodifikasi tak tertulis, yang merupakan bagian dari unconscious constitutionalism, yang dapat dikenal juga sebagai kontrak sosial.

Menurut John Locke, kontrak sosial dapat terbentuk karena masyarakat dalam keadaan natural bersedia bersama untuk membentuk sebuah negara. Kontrak sosial muncul karena masyarakat terikat oleh nilai-nilai moral dimana dalam hal ini negara sebagai regulator / pelindung. Terdapat kata kunci “terikat”. Mungkin terlihat seperti adanya suatu paksaan. Namun kembali kepada esensi dari kontrak sosial dimana ketika masyarakat sepakat untuk membentuk sebuah negara, dibutuhkan tanggung jawab dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbicara tentang tanggung jawab, selalu ada konsekuensi yang harus diterima dan dihadapi, yaitu ikatan baik secara langsung maupun tak langsung. Ikatan ini tertuang dalam kontrak sosial yang kemudian dikodifikasikan dalam bentuk dokumen, yaitu peraturan perundang-undangan seperti UUD 1945, UU, PP, dan lain-lain.

Ada sebuah ikatan yang tidak tertuang secara tulisan, yaitu nasionalisme. Berbicara tentang nasionalisme mungkin takkan ada habisnya. Dalam hal ini nasionalisme merefleksikan bagaimana kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap konstitusi. Seperti halnya komunikasi antar individu maupun kelompok, dalam konstitusi harus terdapat interaksi dan partisipasi dari pemimpin dan rakyatnya. Konstitusi merupakan media komunikasi politik dua arah, bukan satu arah. Komunikasi akan terjalin baik jika antara pengirim dan penerima pesan sama-sama memahami informasi yang disampaikan, serta menerimanya dengan utuh. Jika terdapat noise (gangguan) selama proses pengiriman pesan, mungkin ada beberapa informasi yang hilang dan tidak sampai secara utuh sehingga dapat menyebabkan kesalahan intepretasi informasi. Hal itu dapat dianalogikan kepada konstitusi, dimana konstitusi sebagai media komunikasi antara pemimpin dan rakyat dan sebagai acuan dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ada dua hal bertentangan yang dapat terjadi terhadap konstitusi, yaitu kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin, sehingga konstitusi menghasilkan interaksi dengan baik, atau ketidakpercayaan masyarakat  yang menyebabkan kostitusi menghasilkan interaksi yang kurang kondusif. Kepercayaan, inilah faktor yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan suatu konstitusi. Dalam unconscious constitutionalism, kepercayaan dari semua entitas yang terlibat merupakan kunci awal dalam membina hubungan baik antara entitas-entitas tersebut. Seperti azas pemilu : dari, oleh, dan untuk rakyat, maka dalam menjalankan prinsip-prinsip konstitusionalisme harus dilakukan dengan azas dari, oleh, dan untuk  rakyat. Dalam hal ini rakyat memiliki pengertian yang luas, yaitu seluruh warga Indonesia, bahkan orang-orang di pemerintahan juga termasuk warga Indonesia.

Hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, menyebabkan komunikasi akan berlangsung satu arah. Bentuknya adalah dengan tidak menaati norma-norma yang telah disepakati bersama. Bahkan yang lebih tragis, apabila ketidakpuasan sudah memuncak, tragedi seperti tahun 1998 mungkin bisa terjadi lagi. Faktor kepercayaan bisa terjalin apabila semua element negara dapat menjalankan konstitusi sebaik-baiknya sesuai porsinya dan bisa saling menghargai.

Dalam ilmu psikologi, Sigmund Freud berpendapat dalam Teori Gunung Es dimana dalam kehidupan, conscious mind (pikiran sadar) memiliki porsi sebanyak 12 % dan unconscious mind (pikiran bawah sadar) memiliki porsi sebanyak 88%. Manusia lebih banyak menggunakan yang 12% ini daripada yang 88%. Jika dikaitkan dengan konstitusi, kodifikasi secara tertulis hanyalah memiliki pengaruh sebanyak 12%, sedangkan entitas-entitas yang menjalankan konstitusi inilah yang memiliki pengaruh sebanyak 88%. Jadi, keberhasilkan dari konstitusi terletak pada bagaimana implementasi dan konsistensi dari entitas-entitas yang menjalankan konstitusi dimana dapat digeneralisasi sebagai masyarakat dan pemerintah Indonesia. Masyarakat dan pemerintah harus bisa saling menjaga komunikasi yang baik serta melaksanakan kewajiban dan hak sesuai yang diatur oleh norma-norma yang berlaku.

Majulah terus Garudaku, Merdeka Indonesiaku.

About warganegarayangbaik

Saya Jend. H.E.R.I, sebuah blog yang dirintis oleh 4 manusia yang ngaku kreatif dan gahoooeeel abiezzz, 4 makhluk yang tengah coba mendalami untuk menjadi warga negara yang baik. Di sini saya akan memberikan berbagai info menarik seputar pencarian jati diri saya dan tentu saja pandangan saya akan berbagai fenomena yang tengah terjadi di bangsa ini. Saya berharap dengan adanya saya, dapat membuat sersan sekalian lebih termotivasi untuk turut serta meramaikan dunia blog citizenship Indonesia. Ingin tahu lebih lanjut tentang para perintis? Silahkan klik link berikut...

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: